Keikhlasan Membuat Kita
Senantiasa Bersyukur
Refleksi
ini terinspirasi dari pertanyaan-pertanyaan tes ke-2 kelas Pendidikan
Matematika B dan jawaban Bapak Marsigit atas pertanyaan yang ditanyakan oleh
Sdr. Agustiana Dwi Nurcahyani,S.Pd yaitu:
“Apakah
disaat kita berhasil mengerjakan suatu tes, hasil dari tes tersebut merupakan parameter
bahwa kita telah memahami materi dalam tes tersebut?”
Tes
jawab singkat yang kedua di kelas Pendidikan Matematika B, memberikan hasil
yang tidak memuaskan. Dari 51 soal yang sangat dalam dan sangat luas sebagian
besar mahasiswa tidak mampu menjawab soal-soal tersebut dengan benar, sehingga
masih banyak yang memperoleh nilai nol. Beberapa contoh pertanyaan dalam tes
jawab singkat yaitu: Siapakah diriku? Apa formalnya batu? Apa normatifnya batu?
Apa formalnya kata-kata? Apa materialnya spiritual? Apa formalnya spiritual?
Apa normatifnya spiritual? dan sebagainya. Dalam waktu yang singkat mahasiswa
harus menjawab semua pertanyaan tersebut. Secara psikologi kita akan kesulitan
mengejar apa yang ditanyakan. Ketika pertanyaan tersebut dilontarkan, secara
pribadi jawaban dari pertanyaan tersebut sudah pernah dibaca dalam elegi-elegi,
namun entah mengapa serasa sulit untuk memikirkan kembali jawabannya. Jadi,
dapat dikatakan bahwa tes jawab singkat yang diberikan tidak secara langsung
berhubungan dengan kemampuan berfilsafat yang tertuang di dalam elegi. Hal ini
berarti tidak semua mahasiswa yang sudah membaca elegi-elegi mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan benar, tetapi secara tidak langsung
berkontribusi.
Tes
jawab singkat yang diberikan pada setiap pertemuan berfungsi sebagai
silahturahim dan pemicu pemahaman mahasiswa. Sebagai silahturahim berarti
secara tidak langsung kita akan mengenal seperti apa dan bagaimana cara
berfilsafat. Filsafat dimulai dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
kemudian membuat penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagai pemicu
pemahaman berarti dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kita mempunyai
kesadaran untuk membaca filsafat yang tertuang dalam elegi-elegi. Keberhasilan
ataupun kegagalan kita dalam tes tidak semata-mata menjadi tolak ukur bahwa
kita mampu untuk memahami filsafat, tetapi sebagai silahturahim dan pemicu
pemahaman kita untuk membaca.
Keberhasilan
kita dalam setiap tes jawab singkat yang diberikan dari pertemuan ke pertemuan
akan relatif berkurang. Hal ini dimaksudkan supaya kita tidak sombong dan
meluruh dari sikap ego. Dengan demikian kita tidak hanya mengandalkan kemampuan
kita dalam setiap tes jawab singkat yang diberikan tetapi memiliki niat dan
motivasi untuk mau membaca elegi-elegi. Persoalan kita mengetahui atau tidak
mengetahui apa yang dibaca, di mana membaca dan bagaimana membaca, itu adalah
urusan kita masing-masing. Mempelajari filsafat tidak seperti mempelajari
Matematika. Dalam mempelajari Matematika pada awal tidak dimengerti tetapi
setelah dipelajari kita akan mengerti. Berbeda pengertian dengan filsafat, jika
sekarang kita merasa paham maka pada akhirnya kita akan merasa tidak mengerti
apa-apa. Secara psikologi hal ini dimaksudkan agar tidak ada kesombongna dalam
diri kita. Karena untuk mencapai dan mempelajari ilmu apabila diawali dengan
kesombongan akan menjadikan kita untuk tidak tahu bersyukur akan apa yang
dimiliki. Jadi, keikhlasan kitalah yang dituntut dalam mempelajari apapun. Dari
berbagai uraian-uraian tes jawab singkat di atas kita hendaknya bersikap ikhlas
untuk berbagai hal yang dialami. Ikhlas menjawab 50 soal yang diberikan dalam
waktu singkat. Ikhlas memperoleh nilai nol. Ikhlas untuk tidak berhasil. Ikhlas
untuk membaca elegi-elegi. Ikhlas karena ada elegi-elegi yang tidak kita pahami.
Ikhlas untuk selalu memicu pemahaman kita.
Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita
harus selalu ikhlas mengahadapi situasi dan kondisi sebaik dan seburuk apapun
itu. Dengan keikhlasan kita mampu menyadari kelemahan kita dan termotivasi
untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Dan jika kita sudah menyadarinya kita
hendaknya selalu bersyukur untuk berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan
kita. Untung atau rugi, berhasil atau gagal, baik atau buruk, terlaksana atau
tidak terlaksana, sakit atau sehat hendaknya menjadikan kita ikhlas menerimanya
dan selalu bersyukur untuk semuanya yang dialami. Sebab dengan keikhlasan kita
belajar menerima segala yang terjadi dalam kehidupan dan membuat kita untuk
senantiasa bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Semoga keikhlasan membuat kita
senantiasa bersyukur dalam berbagai keadaan yang kita alami.
Maria Rosadalima Wasida,S.Pd
14709251038
Pendidikan Matematika B
Universitas Negeri Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar