Rabu, 08 Oktober 2014

Inspirasi dari Perkuliahan ke-3 Mata Kuliah Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.(Kamis, 2 Oktober 2014)

Keikhlasan Membuat Kita
Senantiasa Bersyukur

Refleksi ini terinspirasi dari pertanyaan-pertanyaan tes ke-2 kelas Pendidikan Matematika B dan jawaban Bapak Marsigit atas pertanyaan yang ditanyakan oleh Sdr. Agustiana Dwi Nurcahyani,S.Pd yaitu:
“Apakah disaat kita berhasil mengerjakan  suatu  tes, hasil dari tes tersebut merupakan parameter bahwa kita telah memahami materi dalam tes tersebut?”

          Tes jawab singkat yang kedua di kelas Pendidikan Matematika B, memberikan hasil yang tidak memuaskan. Dari 51 soal yang sangat dalam dan sangat luas sebagian besar mahasiswa tidak mampu menjawab soal-soal tersebut dengan benar, sehingga masih banyak yang memperoleh nilai nol. Beberapa contoh pertanyaan dalam tes jawab singkat yaitu: Siapakah diriku? Apa formalnya batu? Apa normatifnya batu? Apa formalnya kata-kata? Apa materialnya spiritual? Apa formalnya spiritual? Apa normatifnya spiritual? dan sebagainya. Dalam waktu yang singkat mahasiswa harus menjawab semua pertanyaan tersebut. Secara psikologi kita akan kesulitan mengejar apa yang ditanyakan. Ketika pertanyaan tersebut dilontarkan, secara pribadi jawaban dari pertanyaan tersebut sudah pernah dibaca dalam elegi-elegi, namun entah mengapa serasa sulit untuk memikirkan kembali jawabannya. Jadi, dapat dikatakan bahwa tes jawab singkat yang diberikan tidak secara langsung berhubungan dengan kemampuan berfilsafat yang tertuang di dalam elegi. Hal ini berarti tidak semua mahasiswa yang sudah membaca elegi-elegi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan benar, tetapi secara tidak langsung berkontribusi.   
          Tes jawab singkat yang diberikan pada setiap pertemuan berfungsi sebagai silahturahim dan pemicu pemahaman mahasiswa. Sebagai silahturahim berarti secara tidak langsung kita akan mengenal seperti apa dan bagaimana cara berfilsafat. Filsafat dimulai dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan, kemudian membuat penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sebagai pemicu pemahaman berarti dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kita mempunyai kesadaran untuk membaca filsafat yang tertuang dalam elegi-elegi. Keberhasilan ataupun kegagalan kita dalam tes tidak semata-mata menjadi tolak ukur bahwa kita mampu untuk memahami filsafat, tetapi sebagai silahturahim dan pemicu pemahaman kita untuk membaca.
          Keberhasilan kita dalam setiap tes jawab singkat yang diberikan dari pertemuan ke pertemuan akan relatif berkurang. Hal ini dimaksudkan supaya kita tidak sombong dan meluruh dari sikap ego. Dengan demikian kita tidak hanya mengandalkan kemampuan kita dalam setiap tes jawab singkat yang diberikan tetapi memiliki niat dan motivasi untuk mau membaca elegi-elegi. Persoalan kita mengetahui atau tidak mengetahui apa yang dibaca, di mana membaca dan bagaimana membaca, itu adalah urusan kita masing-masing. Mempelajari filsafat tidak seperti mempelajari Matematika. Dalam mempelajari Matematika pada awal tidak dimengerti tetapi setelah dipelajari kita akan mengerti. Berbeda pengertian dengan filsafat, jika sekarang kita merasa paham maka pada akhirnya kita akan merasa tidak mengerti apa-apa. Secara psikologi hal ini dimaksudkan agar tidak ada kesombongna dalam diri kita. Karena untuk mencapai dan mempelajari ilmu apabila diawali dengan kesombongan akan menjadikan kita untuk tidak tahu bersyukur akan apa yang dimiliki. Jadi, keikhlasan kitalah yang dituntut dalam mempelajari apapun. Dari berbagai uraian-uraian tes jawab singkat di atas kita hendaknya bersikap ikhlas untuk berbagai hal yang dialami. Ikhlas menjawab 50 soal yang diberikan dalam waktu singkat. Ikhlas memperoleh nilai nol. Ikhlas untuk tidak berhasil. Ikhlas untuk membaca elegi-elegi. Ikhlas karena ada elegi-elegi yang tidak kita pahami. Ikhlas untuk selalu memicu pemahaman kita.
Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita harus selalu ikhlas mengahadapi situasi dan kondisi sebaik dan seburuk apapun itu. Dengan keikhlasan kita mampu menyadari kelemahan kita dan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Dan jika kita sudah menyadarinya kita hendaknya selalu bersyukur untuk berbagai hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Untung atau rugi, berhasil atau gagal, baik atau buruk, terlaksana atau tidak terlaksana, sakit atau sehat hendaknya menjadikan kita ikhlas menerimanya dan selalu bersyukur untuk semuanya yang dialami. Sebab dengan keikhlasan kita belajar menerima segala yang terjadi dalam kehidupan dan membuat kita untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Semoga keikhlasan membuat kita senantiasa bersyukur dalam berbagai keadaan yang kita alami.

Maria Rosadalima Wasida,S.Pd
14709251038
Pendidikan Matematika B

Universitas Negeri Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar